::: Penjara Mental :::

KICK Andy Metro TV belum lama ini menayangkan episode para narapidana yang mengikuti kuliah hukum yang diselenggarakan Universitas Bung Karno bekerjasama dengan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Dalam episode itu, host acara tersebut, Andy Noya antara lain mewawancarai Theo Toemion, mantan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) dan beberapa napi lainnya.

 

Berambut gondrong dan berkacamata ukuran mini, Toemion tampak ceria dan begitu bersemangat saat menjawab pertanyaan Andy, seakan tidak dalam penjara dan berstatus napi. Dia juga kelihatan lebih muda. Selama dalam penjara dia sempat menulis buku. “Badan saya memang terpenjara, tapi pikiran saya tidak, dia tetap bebas,” katanya. Sebelum Theo Toemion ada Pramudya Anantatoer. Puluhan tahun dia hidup dalam penjara, bahkan sempat dibuang ke Nusakambangan dan Pulau Buru. Pemerintahan Orde Baru menuduhnya sebagai antek komunis. Dia dipenjara tanpa proses pengadilan. Fisiknya terkungkung di balik terali besi, namun pikirannya merdeka. Belasan buku (sebagian besar novel) dia tulis dan laris.

 

Dua puluh tujuh tahun hidup di penjara yang letaknya terpencil di sebuah pulau, Nelson Mandela juga merasa merdeka. Merdeka untuk berpikir positif dan menjunjung semangat mengasihi dan mencintai, sehingga saat bebas, dia tidak membalas dendam kepada orang yang telah memenjarakan dan menyiksanya. Padahal, kalau mau, dia bisa melampiaskan dendam sesuka-sukanya, sebab tidak lama setelah bebas, Mandela duduk di tampuk kekuasaan sebagai Presiden Afrika Selatan.

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara kita yang justru memenjarakan diri sendiri. Dengan sengaja, kita memenjarakan mental kita, padahal penjara mental jauh lebih berbahaya daripada penjara fisik. Menurut motivator Arvan Pradiansyah, sedikitnya ada tiga jenis penjara mental yang membatasi hidup kita:

 

1. Keyakinan bahwa ada yang membatasi hidup kita.

Mereka yang meyakini hal ini umumnya punya prinsip bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh Tuhan. Konkretnya kalau Tuhan menggariskan seseorang miskin, maka berusaha sekeras apa pun hasilnya tetap miskin. Efeknya, orang yang menganut paham ini akhirnya cuma bisa pasrah. Akibat paling buruk, dia tidak mau mengembangkan diri dan malas berusaha, lalu hanya percaya pada nasib. Mereka umumnya berdalih “nggak punya”, “tidak bisa”, “saya kan wanita”, “pendidikan saya kan tidak tinggi”, “saya kan sudah tua” atau “saya kan masih terlalu muda” jika diminta untuk melakukan sesuatu. Padahal pemberian Tuhan, menurut Arvan, ibarat buku yang masih kosong, sehingga kita bebas menulis apa saja.

 

2. Selalu mengenang masa lalu.

Mereka yang meyakini hal ini umumnya berpandangan bahwa masa yang telah berlalu sebagai sesuatu yang berharga mati. Misal jika pada masa lalu seseorang pernah mengalami kegagalan, maka kegagalan ini dijadikan sebagai patokan bahwa ke depan dia pasti akan menemui kegagalan, padahal belum tentu apa yang dikhawatirkan bakal terjadi. Sebaliknya kesuksesan yang diraih pada masa lalu juga bisa memenjarakan seseorang. Karena itu jika apa yang dikerjakan sekarang membawa kegagalan, dianggap sebagai kiamat dan menganggap masa lalu yang sukses sebagai kenangan manis. Orang dengan kenangan seperti ini biasanya anti terhadap perubahan dan maunya tinggal di ‘comfort zone’. Masa lalu dianggap sebagai segala-galanya. Intinya, sukses atau gagal di masa lalu dianggap sebagai ukuran.

 

3. Takut mencoba dan takut berbuat.

Orang yang senang memenjarakan diri di ‘penjara’ takut berbuat salah ini biasanya tidak pernah melakukan apa-apa, karena yang dipikirkan cuma rasa takut. Arvan mengatakan, untuk keluar dari penjara ini, seseorang harus berani mencoba, sebab mencoba tidak ada batasnya. “Kalau kita tidak berani mencoba, maka kita sebenarnya sudah memenjarakan diri,” katanya.

 

Banyak orang yang tidak berani mencoba karena merasa tidak punya kemampuan. “Ah, saya kan tidak punya bakat di situ.” Kalimat seperti ini yang biasanya dilontarkan oleh mereka yang takut mencoba, padahal ketakutan tercipta dari pikiran bawah sadar kita.  Menurut Arvan, penjara mental ‘comfort zone’ sering dijadikan dalih bagi penghuninya untuk menyatakan ketidaksetujuannya terhadap berbagai perubahan. Setiap ada perubahan untuk menyongsong masa depan, kenangan lama biasanya bangkit kembali. Arvan menyebutnya sebagai KLBK (kenangangan lama bangkit kembali). Oleh sebab itu menarik apa yang pernah dilontarkan pemimpin tertinggi Uni Soviet (sekarang Rusia) kepada rakyatnya bahwa “Kalau masa lalu terlihat masih besar, maka sebenarnya kita tidak pernah berbuat apa-apa di masa kini.”

 

Cepas puas, menurut Arvan, juga bisa menjadi penjara. Memunculkan kenangan lama boleh-boleh saja. Namun KLBK harus kita jadikan sebagai pemicu untuk melangkah ke arah yang lebih baik; kalau dulu bisa mengapa sekarang tidak. Arvan mengingatkan, jangan pernah mengatakan gagal (permanen) saat kita melakukan sesuatu, tapi katakan belum berhasil.

 

Agar mental kita tidak terpenjara, saran Arvan, sebaiknya kata-kata yang berefek melemahkan seperti “hanya” atau “dulu” diganti dengan “bagaimana kalau…..”

Satu Tanggapan

  1. penjara sebagai wadah memperbaiki diri…
    jangan penjara jadi tempat seperti tempat liburan kya artalyta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: