Apakah Saya Melakukan Korupsi?

Tulisan ini saya buat beberapa bulan yang lalu, dan pernah saya
posting di milis ini. Namun dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi
Sedunia, dan supaya milis ini tidak begitu sepi, tulisan ini saya
angkat kembali. Mudah-mudahan masih relevan!

Saya Tidak Korupsi?

Belum lama ini ada seorang mantan pejabat yang divonis hukuman penjara
4 tahun karena terbukti melakukan korupsi ( beritanya ada di sini,
http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/30/ 18005729/ Divonis.4. Tahun.Penjara. .Danny.Setiawan. Terima
). Suatu hal yang mungkin tidak disangka-sangka sebelumnya oleh yang
bersangkutan, bahwa akibat tindakannya pada saat menjabat bisa sampai
seperti itu. Mungkin karena beliau merasa itu sudah biasa di
lingkungannya, atau juga mungkin karena merasa itu bukan tindakan
korupsi.

Beberapa waktu yang lalu juga ada seorang pejabat pemda mencalonkan
diri menjadi gubernur sebuah provinsi di Indonesia, dalam satu acara
debat yang disiarkan di layar televisi, ada seorang di antara audience
yang bertanya kepada beliau, “Saya tahu dari mulai lulus kuliah hingga
menjabat sebagai Wagub, Bapak berkarir di Pemda. Dan Bapak sekarang
memiliki harta yang menurut ukuran orang Indonesia sangat banyak.
Pertanyaan saya, dari sekian banyak harta Bapak yang sekian puluh M
itu, apakah Bapak yakin tidak ada yang diperoleh dari hasil korupsi?”

Bapak tersebut sempat terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Tidak ada!”

Sekarang saya tanya kepada kita semua, apakah kita percaya jawaban
atas pertanyaan itu?. Meskipun agama kita menyuruh agar kita tidak
sudzon kepada sesama, “Okelah itu memang rizki yang diberikan Allah
kepada beliau”, namun dalam hati kecil sulit menerima kenyataan
seorang pejabat (bukan pengusaha, dan pejabat kan tidak boleh menjadi
pengusaha) bisa memiliki harta hingga puluhan M. Astaghfirullah,
maafkan hambamu ya Allah! Bisa saja beliau memang punya orang tua yang
kaya raya dan mewariskan kekayaannya kepada beliau.

Kebanyakan orang kita (orang Indonesia) merasa tidak melakukan
korupsi. Pehamaman korupsi yang ada di benak sebagian besar orang
kita, korupsi adalah memakan langsung uang yang bukan haknya, misalnya
uang perusahaan atau uang negara. Tapi jika menerima pemberian uang
atau barang dari pihak lain, kita tidak merasa melakukan korupsi.

Padahal, korupsi yang paling banyak terjadi di Indonesia, adalah yang
jenis seperti itu. Kongkalikong antara pejabat publik dengan
pengusaha, dalam meloloskan proyek atau memenangkan tender. Proyeknya
lolos, pengusahanya senang. Saking senangnya si pejabat ditraktir atau
diberikan hibah (istilah yang sering digunakan seseorang untuk
berdalih dari mana hartanya berasal) barang ataupun uang. Si pejabat
tidak meminta uang ke si pengusaha, jadi dia tidak merasa melakukan
korupsi. “Orang dikasih kok! Siapa suruh ngasih duit?”, pikirnya
seperti itu.

Tapi apakah hal seperti itu merugikan negara? Tentu saja! Karena
menimbulkan High Cost Economy.

Dulu pernah ada kasus pengadilan di Singapura antara BUMN pengelola
minyak kita Pertamina dengan janda seorang mantan Direkturnya, Kartika
Thaher. Kartika Thaher mengajukan pembelaan, uang warisan suaminya
bukan dari hasil korupsi, karena itu semuanya adalah pemberian dari
pihak lain. Sementara Pertamina menggugat, pemberian dari pihak lain
itu adalah sebenarnya untuk Pertamina, jadi merupakan korupsi juga.
Alasan Pertamina, pemberian itu dilakukan karena suami Kartika ini
saat itu menjabat sebagai direktur Pertamina.
(Memang benar sih, coba kalau kepada orang biasa, tidak usah
jauh-jauh, sayalah misalnya, mana ada perusahaan yang mau memberikan
hibah uang, apalagi dalam jumlah besar!)
Argumentasi itu akhirnya diperdebatkan di pengadilan Singapura, dan
Alhamdulillah (sampai saat ini bagi kita Singapura masih kurang
kooperatif terhadap Indonesia kalau menyangkut kejahatan korupsi),
pengadilan sana memenangkan gugatan pihak Pertamina. Akhirnya asset
kekayaan sang mantan direktur itu ditarik dari bank Singapura kembali
ke Indonesia.

Sayangnya, argumentasi Kartika Thaher saat itu masih dipakai oleh
sebagian oknum warga negara kita hingga kini, yang tidak merasa
melakukan korupsi tapi sebenarnya merugikan. Di tengah upaya keras KPK
menjaring para penjahat korupsi, suasana seperti itu (kongkalikong
atau pun pungli atau pun pelicin atau balas budi pimpinan daerah
terhadap bekas tim suksesnya atau apapun namanya) bisa terlihat di
kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari saat mengurus KTP, mengurus
SIM, passport, dokumen bea cukai, memasukkan barang ke perusahaan dan
lain-lain yang sangat banyak, tidak lepas dari “pemberian” yang
mungkin ikhlas tidak ikhlas ini.
Sementara yang menerima pun, merasa tidak meminta. Juga tidak merasa
mengambil uang negara/perusahaan.
Hanya, kalau tidak diberi, kenapa jadi lambat ya pengurusannya? Kenapa
jadi susah memenangkan tendernya? Kenapa customer kita pindah ke
supplier lain? Kenapa pelanggaran dibiarkan kasat mata terjadi tanpa
tindakan nyata dari aparat? Dan lain-lain yang pasti Bapak Ibu pernah
merasakannya

Selama korupsi masih merajalela di segala lini kehidupan bangsa dan
negara kita, mustahil kemajuan dan kesejahteraan bisa kita raih.
Pimpinan yang sekuat apapun, yang sebersih bagaimanapun, tanpa
didukung aparatnya, tanpa didukung rakyat dan warganya, adalah
mustahil menghilangkan budaya korupsi yang sudah mendarah-daging.
Perbaikannya, kembali pada diri kita masing-masing. Dimulai dari kita
sendiri. Bisakah?
Coba periksa diri kita, adakah sebagian penghasilan kita yang berasal
dari pemberian ikhlas tidak ikhlas dari orang lain?

Majulah bangsaku, Berantaslah korupsi!
(CP, Jul 2009)

Source : http://ceppi- prihadi.blogspot .com/2009/ 07/saya-tidak- korupsi.html

2 Tanggapan

  1. korupsi yg kecil2 akar dari korupsi kepentingan negara.. :~

    • Salam kenal ya Mba Iin….
      Diindonesi korupsi itu kadang memang abu2…. terutama kalo kerja dipemerintahanšŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: