Memahami Perjuangan Pangeran Diponegoro

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com–Pada jurnal Islamia-Republika, edisi 15 Oktober
2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”Diponegoro Pangeran
Santri Penegak Syariat”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo,
mahasiswa Magister Pemikiran Islam-Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Artikel itu membuka kembali wacana penting dalam penulisan sejarah
Islam di Indonesia bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah pahlawan
nasional yang berjuang melawan Belanda semata-mata karena urusan tanah
atau tahta. Tapi, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan
Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah
Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Diponegoro adalah sosok
pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi
mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di Tanah Jawa.

Berikut ini kita sajikan secara utuh tulisan yang menarik tentang
Diponegoro tersebut.

Pangeran Diponegoro lahir pada 1785. Ia putra tertua dari Sultan
Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati,
keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa
Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih
jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali
Sanga dari Jawa Timur. Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam
Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru
Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal
oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan
besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari
Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde
deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.

Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh
Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil
yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke
Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren.
Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di
sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap
berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai
orang biasa dengan berpakaian wulung.

Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran
Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang
keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat
Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani
mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan
anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di
Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat AlMustaqim karya
Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan,
Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink,
1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit
Bulan Bintang Jakarta hal. 29).

Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang
menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah.
Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang
Belanda.  Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan
orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma.
Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: “Rakhmanudin dan kau
Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku,
bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun
seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya
sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar,
berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad
Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).

Perang besar

Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19,
Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati
bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti-kolonial. Beberapa
sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil
alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk
menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa, 4. Aneka intrik
di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada
orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6.
Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja,
tetapi juga untuk kepentingan Belanda.

Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh
alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui
oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru
Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan
negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada
noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”

Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock
pada saat penangkapannya. “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid.
Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu
Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang
bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah
Ratu Islam Tanah Jawa).  (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku,
Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002)).

Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran
Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada
barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum
Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April
1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena
cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah
Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12
penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama
Diponegoro.

Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca
pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647,
hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun
Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama
sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.

Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang
Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah
kolonial, bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang
Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak
Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang
meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000
orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta
orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.

Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya
dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran
Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui
sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi
bangsa Indonesia.  Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis:
“Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali
hingga mendekati keterlaluan.”

Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Arif Wibowo tentang
Pangeran Diponegoro. Informasi tentang Diponegoro tersebut perlu
diajarkan di sekolah-sekolah kita, khususnya sekolah-sekolah dan
lembaga pendidikan Islam. Saya masih menemukan banyak sekolah Islam
yang masih mengajarkan cerita tentang Diponegoro yang keliru dan tidak
menggambarkan Diponegoro sebagai seorang pahlawan Islam. Seolah-olah
Diponegoro berjuang melawan Belanda hanya karena urusan duniawi.

Kita berharap, pengelola lembaga pendidikan Islam, juga para orang tua
bersedia meneliti buku-buku pelajaran anak-anaknya, agar tidak
menyimpang dari ajaran Islam dan fakta yang sebenarnya.

Cobalah bertanya kepada anak-anak kita, apakah mereka memahami bahwa
Islam masuk ke Indonesia adalah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat
India.   Padahal, teori buatan Snouck Hurgronje itu sudah lama dijawab
oleh para ulama dan sejarawan Muslim.  Para pendakwah Islam di wilayah
Nusantara ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para
pendakwah yang datang dari negeri Arab yang serius mendakwahkan Islam;
bukan sekedar pekerjaan sambilan dari pekerjaan utama, yaitu
berdagang.

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan lembaga-lembaga pendidikan,
saya mengajak para pimpinan dan guru-gurunya, agar serius
memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Suatu ketika anak saya
menyodori sebuah soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI
Sekolah Dasar dari suatu sekolah Islam terkenal.  Salah satu soalnya
menceritakan bahwa ada seorang anak yang rumahnya jauh dari rumah.
Setelah pulang sekolah ia harus membantu ibunya berjualan sampai
Magrib. Usai shalat Magrib, dia masih harus mengaji, sehingga esoknya
di sekolah dia kecapekan dan mengantuk.

Soal semacam ini seyogyanya tidak diberikan kepada anak didik, apalagi
di sekolah Islam. Mestinya diajarkan bahwa meskipun anak tersebut
rumahnya jauh, harus membantu orang tuanya berjualan, dan juga harus
mengaji, tetapi si anak tetap dapat meraih prestasi dengan baik di
sekolahnya. Faktanya, tidak sedikit anak-anak berprestasi di
sekolahnya justru anak-anak yang suka belajar dan bekerja keras,
meskipun berada dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah.

Itulah pentingnya lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan perbaikan
terhadap guru-guru dan kurikulum serta buku-buku pelajarannya. Kita
berharap, dari sekolah-sekolah itulah akan lahir anak didik yang
beradab. Yakni, anak didik yang mampu memandang dan meletakkan segala
sesuatu pada tempatnya sesuai derajat yang ditentukan Allah SWT.

Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai
pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya
mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam untuk
merevisi, dan kalau perlu merombak, buku-buku pelajaran yang selama
ini diajarkan kepada anak didik mereka.

Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan
perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup.
Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran
Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik
sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang
pahlawan Islam tersebut.

[Jakarta, 17 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta
107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: