::: Harta Produktif vs Harta Konsumtif :::

“Walaupun penghasilan kita sebagai seorang karyawan umumnya dibatasi, kita bisa menumpuk kekayaan bila tahu bagaimana caranya.”  -  Safir Senduk

 

  

Apapun yang kita miliki saat ini bisa dikatakan sebagai harta. Nah harta tersebut, di golongkan menjadi 2 yaitu harta konsumtif dan harta produktif.

  • Harta Konsumtif adalah semua harta yang menyebabkan kita mengeluarkan uang.  
  • Harta Produktif adalah semua harta yang bisa mendatangkan uang kepada kita.

Pakde Robert T. Kiyosaki dalam bukunya “Ayah kaya, Ayah miskin” menyebut hal tersebut sebagai aset(harta produktif) dan liabilitas(harta konsumtif).

 

Ternyata yang namanya kaya secara finansial itu bukan  diukur dari berapa besar penghasilan kita, tapi dari bagaimana kita mengelola keuangan kita.  Ada orang yang berpenghasilan ratusan juta rupiah tapi mempunyai banyak hutang dan selalu merasa kurang, kurang, dan kurang.  Ada orang yang berpenghasilan 2 juta per bulan, tapi bisa memenuhi segala kebutuhan dan keinginnannya.   “Orang kaya belum tentu dapat mengelola keuangan, tapi orang yang dapat mengelola keuangan sudah pasti orang kaya”.

 

Ada 4 hal yang penting dan pokok dari pengelolaan keuangan, yaitu Penghasilan, Pengeluaran, Harta Konsumtif, dan Harta Produktif.   Kita harus mengetahui perbedaan sesuatu yang beresiko dan sesuatu yang tidak beresiko, terutama perbedaan harta (aset) dengan hutang (liabilitas). Memiliki sebuah rumah untuk disewakan adalah aset, sedangkan memiliki rumah untuk ditempati sendiri adalah liabilitas. Memiliki rumah sewa tidak beresiko karena mendatangkan pemasukan, sedangkan memiliki rumah tinggal beresiko karena mendatangkan pengeluaran atau hutang dalam bentuk angsuran dan bunga, pajak, pemeliharaan dan sebagainya. Membeli aset (harta produktif) adalah tidak beresiko, sedangkan membeli liabilitas yang seolah-olah aset (harta konsumtif) adalah beresiko

 

Untuk penghasilan dan pengeluaran tentunya hal ini tidak bisa kita atur semau kita, sedangkan harta konsumtif dan harta produktif dapat kita atur sesuai pilihan kita. Misalnya motor. Motor sebetulnya harta konsumtif, kenapa? Karena kita harus mengeluarkan uang untuk bensin, perawatan, dsb. Tapi kalau motor tersebut kita jadikan ojek atau bisa juga untuk penunjang bisnis kita(misal bisnis jualan roti yang menggunakan motor), maka motor tersebut bisa menjadi harta produktif. Contoh lain misalnya handphone. Ini juga harta konsumtif karena memerlukan pulsa. Kalau kita jadikan handphone tersebut untuk jualan pulsa elektrik, maka handphone tersebut bisa menjadi harta produktif.

 

Biasanya, kita hanya mempunyai 1 pos pemasukan dalam bentuk gaji,  sedangkan pos pengeluarannya mungkin mencapai 20 pos pengeluaran. Akibatnya,  seringkali tidak mempunyai tabungan bahkan pas-pasan terus malahan cenderung mempunyai hutang.

 

Ada beberapa cara mencari penghasilan :

  1. Menjadi pekerja (employee), yaitu seseorang yang bekerja pada seseorang (majikan), kantor pemerintahan, atau sebuah perusahaan.
  2. Menjadi pekerja lepas (self employed) yang menjadi boss bagi dirinya sendiri, seperti seorang profesional (dokter, pengacara, konsultan, dsb) atau pekerja lepas lainnya yang menjajakan suatu produkatau menjual suatu jasa kepada pihak lain.
  3. Menjadi pebisnis (business owner), yaitu seseorang yang menciptakan sebuah usaha, mempekerjakan orang untuk bekerja dan mengendalikan sistem usaha yang diciptakannya itu.
  4. Menjadi investor, yaitu seseorangyang menginvestasikan uangnya dalam produk-produk investasi, barang yang dapat dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi, barang sewaan atau barang ciptaan.

 

 

Kebiasaan yang Perlu Diperbaiki

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa setiap bulan kita lebih banyak membeli barang yang termasuk harta konsumtif.  Kalau diperhatikan, setiap tanggal muda setelah menerima gaji, orang selalu memenuhi mall, plaza, atau pusat perbelanjaan hanya untuk menambah barang-barang di rumahnya, entah itu betul- betul diperlukan atau tidak……….. Ya, mall dan pusat perbelanjaan memang menjadi sentra barang-barang konsumtif, dan sadar atau tidak, kita selalu pergi ke situ tanpa pernah berusaha memiliki harta produktif.

 

Jangan lupa menumpuk dan menambah koleksi harta produktif, supaya kelak kalau gaji bulanan berhenti, penghasilan dari Harta Produktif masih tetap ada. Beli dan Miliki sebanyak Mungkin  Harta Produktif – harta yang bisa memberikan penghasilan.

 

Seharusnya, inilah langkah pertama yang harus  dilakukan setelah mendapatkan gaji:  sisihkan sebagian untuk dibelikan Harta Produktif.  Jangan mengira Harta Produktif itu sesuatu yang sangat mahal dan hanya bisa dimiliki dengan uang sangat banyak. Jangan lupa, produk tabungan di bank pun tergolong Harta Produktif kalau kita memakainya untuk investasi dan tidak pernah diambil, biarpun pada saat ini bunganya kecil.

 

Apa saja yang bisa yang digolongkan Harta Produktif?

Hanya ada empat kelompok besar Harta yang bisa memberikan penghasilan yang bisa kita miliki: a. Produk Investasi b. Bisnis c. Harta yang Disewakan d. Barang Ciptaan

 

a. Produk Investasi

Produk investasi adalah salah satu jenis harta yang bisa memberikan penghasilan kepada kita, baik penghasilan rutin maupun penghasilan yang hanya sesekali atau bahkan hanya sekali saja. Produk investasi yang bisa memberikan penghasilan rutin biasanya berbentuk Produk Investasi Pendapatan Tetap. Produk ini biasanya memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang investasikan tidak akan berkurang. Contohnya, deposito di bank.  Deposito adalah produk dimana kita menaruh uang di bank selama jangka waktu tertentu, kemudian pada saat jatuh tempo kita akan mendapatkan bunga dan tidak lupa uang yang kita taruh di bank akan dikembalikan.

Bagaimana dengan tabungan di bank? Apakah ini juga tergolong Produk Investasi Pendapatan Tetap? Ya, karena produk tabungan di bank memiliki prinsip yang hampir sama dengan deposito. Bedanya, pada deposito uang kita “dikunci” dan tidak boleh diambil sampai jangka waktu tertentu, dan pada tabungan uang kita tidak “dikunci”. Inilah yang membuat produk tabungan di bank bisa saja digunakan untuk investasi. Hanya saja pada praktiknya, karena kecilnya bunga dan fleksibilitas dalam pengambilan, orang sering kali tidak lagi menjadikan produk tabungan di bank sebagai tempat investasi, tapi hanya sebagai tempat menyimpan. Bila ada rekening tabungan yang kita perlakukan seperti ini, ini tergolong ke dalam Harta Konsumtif.

 

 Selain Produk Investasi Pendapatan Tetap, jenis produk investasi kedua adalah produk investasi yang memberikan keuntungan dari pertumbuhan, di mana penghasilan yang didapatkan bukan berasal dari bunga, tapi dari pertumbuhan nilainya.  Artinya, penghasilan yang diperoleh dari harta tersebut baru bisa didapat  kalau kita menjualnya.  Jadi, penghasilan yang kita dapatkan cuma sekali.  Contohnya:  reksadana, emas, saham, tanah, produk-produk investasi yang sifatnya jual beli.  Beli dan miliki kelompok harta ini sebisa mungkin…..

 

Beberapa produk reksadana pada saat ini sudah bisa dimiliki dengan modal awal hanya dengan beberapa ratus ribu rupiah. Deposito bisa dimiliki dengan investasi awal yang hanya beberapa juta rupiah. Koin emas juga bisa dimiliki dengan nilai awal 5 gram.  Kalau gaji terbatas, nggak selalu harus mahal ‘kan untuk bisa memiliki Harta Produktif?

 

b. Bisnis

Banyak orang menyisihkan gaji setiap bulan untuk dijadikan modal bisnis. Tidak semua bisnis memerlukan modal besar. Beberapa orang yang datang ke seminar saya malah mengaku tidak membutuhkan modal besar ketika memulai bisnis. Bisnis yang bergerak di bidang jasa sering kali tidak membutuhkan modal besar, kecuali untuk sejumlah peralatan kantor sederhana yang bisa dibeli dengan menyisihkan sebagian kecil dari gaji kita selama enam bulan gaji.  Bisnis adalah salah satu Harta Produktif yang bisa kita miliki.  Masalahnya sekarang,  ada banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal bisnis, tapi masih saja takut memulai.  Saran saya sederhana: mulai saja.  Kita tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan kecuali kitaa memulainya.  Mempunyai kendala waktu?   Banyak orang bisa memulai bisnis dengan berpartner atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain. Orang lain itulah yang menjalankan bisnisnya, sementara orang yang mempunyai modal bisa tetap mencurahkan waktu untuk pekerjaannya.  Sekali lagi, ini memang bukan pekerjaan gampang, tapi kita tidak akan tahu kalau tidak mencoba.

 

c. Harta yang Disewakan

Bila kita menyewakannya dan bisa mendapatkan uang dari situ, maka Harta Konsumtif  bisa disebut Harta Produktif.   Harta apa saja yang bisa di sewakan?  Banyak.   Sebuah rumah bisa disewakan kepada keluarga muda yang belum mampu membeli rumah sendiri.  Mobil Kijang bisa disewakan kepada tamu hotel yang ingin melakukan perjalanan dalam kota dan membutuhkan transportasi.  Motor bisa disewakan secara bulanan untuk diojek.  Bahkan, kita bisa membuat gerobak nasi goreng untuk di sewakan secara harian kepada penjual nasi goreng.   Apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan gaji adalah mencoba menyisihkannya sedikit demi sedikit agar dapat memiliki harta yang kelak bisa kita sewakan.  Bahkan, kalau mau, jika beberapa dari harta tersebut sudah di miliki di rumah dan kebetulan tidak terlalu sering dipakai,  bisa aja di sewakan. Contoh paling mudah adalah motor yang bisa diojekkan atau komputer di rumah bisa juga dijadikan bagian dari usaha rental komputer.

 

d. Barang Ciptaan

Barang Ciptaan adalah salah satu Harta Produktif yang bisa di buat sendiri. Banyak orang bisa membuat sesuatu,  memproduksinya secara massal (entah dengan modal sendiri atau modal orang lain), menjualnya dan mendapatkan royalti.  Royalti adalah penghasilan yang umumnya diterima terus-menerus dari penjualan barang atau sesuatu yang sifatnya ciptaan.   Contoh sederhana Barang Ciptaan adalah buku yang sedang Anda baca sekarang.  Saya menulis buku ini selama beberapa minggu, kemudian saya datang ke penerbit.  Penerbitlah yang akan memproduksinya secara massal dengan uang mereka.

 

 

Kendalikan “Keinginan” yang menjerumuskan pada Harta Konsumtif

Fahami benar-benar  antara kebutuhan dan keinginan.

“Kebutuhan” (Needs) adalah barang atau jasa yang benar-benar kita perlukan.  Jika tidak bisa mendapatkan barang tersebut, maka kehidupan  menjadi terancam atau menjadi susah. Contoh: makanan. Manusia membutuhkan makanan untuk tetap bertahan hidup. Apabila manusia tidak makan sama sekali, maka dalam waktu 3 hari dia akan mati.

 

“Keinginan”(Desire) adalah barang atau jasa yang dibeli hanya semata untuk kesenangan.  Biasanya keinginan ini lebih didorong oleh rasa tamak sehingga rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan apa yang dia mau.

 

Barang yang merupakan kebutuhan, bisa berubah menjadi keinginan jika dipenuhi secara berlebihan.  Makanan misalnya. Kebutuhan kita sebenarnya dapat terpenuhi jika kita makan secukupnya –  misalnya saja dengan memesan nasi rames yang harganya  Rp. 10.000.  Namun, sebagian orang lebih suka makan di kafe-kafe dengan biaya yang lebih mahal, anggap saja Rp. 50.000.  Selisih Rp. 40.000  ini merupakan harga yang harus dibayar untuk memuaskan keinginan,  antara lain keinginan akan kemewahan, suasana yang menyenangkan, service, dan lain-lain.

 

Mulailah menyisihkan sedikit waktu  untuk bertanya pada diri sendiri.  Kita mungkin akan menemukan bahwa ada cukup banyak barang yang  dianggap perlu tidak lain hanya keinginan.  Sekali kita dapat membedakan keduanya dengan obyektif dan dapat membatasi diri agar tidak membeli barang-barang yang hanya sekedar keinginan, maka kita sudah dalam jalan sukses hidup mengontrol keinginan.

 

 

http://kelola-uang.blogspot.com/2008/09/harta-konsumtif-vs-harta-produktif.html

http://www.wattpad.com/110263-Siapa-Bilang-Jadi-Karyawan-Nggak-Bisa-Kaya?p=6

http://mulyowiharto.blogspot.com/2009/06/how-to-make-money-withoutv-money.html

http://wijayalabs.wordpress.com/2008/06/06/bedakan-kebutuhan-dan-keinginan/

About these ads

2 Tanggapan

  1. trims mas tambahan wawasannya,kiranya bisa mas beri saran tentang investasi produktif yang bisa dibeli oleh pegawai negeri seperti saya

  2. Bismillahirahmanirrahim, semoga teori bisa dipraktekkan,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: